PostHeaderIcon Dari Masa Ke Masa

PostHeaderIcon Berdirinya HCS Chung Hwa Hui

Chung Hwa Hui (pinyin : Zhong Hua Hui) yang artinya adalah perkumpulan orang - orang tionghoa merupakan salah satu organisasi yang berdiri pada masa - masa kolonial Belanda. Salah satu misi mereka waktu itu adalah memperjuangkan nasib orang - orang tionghoa di Hindia Belanda, termasuk didalamnya misi - misi sosial seperti kesehatan dan sekolah yang waktu itu sangat terbatas jumlahnya dan lebih mengutamakan pelayanan untuk orang - orang Eropa yang ada di Hindia Belanda. Dalam perjalanannya, perkumpulan ini telah mendirikan beberapa tempat pelayanan publik yang tidak saja melayani orang - orang tionghoa, tetapi juga masyarakat umum di beberapa kota besar di Hindia Belanda.

Pada tahun 1929, atas usaha The Sien Tjo berhasil terkumpul dana yang cukup untuk mendirikan sebuah sekolah di Semarang, yang kemudian dinamakan HCS Chung Hwa Hui. Sekolah baru ini diresmikan pada tanggal 1 Juli 1929 dan bertempat di sebuah rumah di Jalan Seteran no 56 (waktu itu). Sebagai guru pertama, diangkat Ms A Vervoorn yang kemudian digantikan oleh Ms Rika Go. Karena sesuatu hal, kemudian beliau juga digantikan berturut - turut oleh Ms Kiemeny Lebert dan Ms Tjoa Etty

Kepengurusan sekolah waktu itu dinamakan Komssie Sekolah yang juga dibentuk pada tanggal 1 Juli 1929 dan diketuai oleh The Sien Tjo, penulis KD Liem, bendahara Tan Kong Tam dan sebagai komisaris ditunjuk Jauw Keng Hong.

Pada usianya yang ke dua, tanggal 1 Juli 1931, HCS Chung Hwa Hui telah memiliki Voorklas, kelas 1, 2 dan 3. Sedangkan guru yang mengajar waktu itu adalah Ms Hidayat untuk voorklas, Ms Tjoa Etty untuk kelas 1, Ms FS Van Beuzekom de Bruyn untuk kelas 2. Setahun kemudian, tanggal 1 Juli 1932 sekolah ini menempati gedung baru di Jalan Plampitan (beberapa tahun lalu pernah digunakan untuk bangunan Grand Hotel, sekarang sedang dalam proses pembangunan) namun hanya untuk beberapa bulan saja, karena pada tanggal 25 September 1932, HCS Chung Hwa Hui kembali pindah ke sebuah tempat di Kampong Karangtoeri hingga sekarang.

 

PostHeaderIcon Dari HCS Chung Hwa Hui ke Karangturi

Atas persetujuan bersama antara pengurus sekolah dan pengurus perkumpulan orang tua murid pada tahun 1950 kepengurusan sekolah diubah menjadi sebuah yayasan yang bernama Yayasan Sekolah Chung Hwa Hui Semarang. Selanjutnya untuk menyesuaikan dengan misi sekolah sebagai wadah pendidikan nasional, nama yayasan kembali diubah pada tahun 1963 menjadi Yayasan Pendidikan Nasional Karangturi.

Pada masa - masa itu kondisi ekonomi sangat memprihatinkan, demikian pula dengan kondisi sekolah. Bangunan sekolah sebagian besar hanya tersusun dari kayu dan bambu serta beralaskan tanah, tidak ada tempat berkumpul bagi pengurus yayasan untuk memikirkan masa depan sekolah. Alkisah ada sebuah pohon asam yang tumbuh dihalaman sekolah yang memang waktu itu banyak ditanam disepenjuru kota Semarang, para pengurus yayasan sering berkumpul untuk merundingkan masalah - masalah sekolah disana sehingga kemudian muncul idiom yayasan sor-sem, singkatan dari ngisor asem

Memasuki babak baru, pada tahun 1964 pengurus yayasan waktu itu memberi kuasa kepada Ie Khoen Moh untuk membentuk kepengurusan yayasan yang baru dan selanjutnya mengurus sekolah dengan sebaik - baiknya. Memasuki masa - masa kegelapan bangsa Indonesia, perjalanan Sekolah Nasional Karangturi juga tidak luput dari kesuraman. Diisuekan sebagai sekolah yang berkiblat pada partai politik terlarang waktu itu, pada tahun 1965 operasional sekolah ditutup dan gedung sekolah diambil alih oleh pemerintah dan digunakan untuk tempat penampungan tahanan politik.

Untunglah, berkat kekompakan pengurus yayasan dan seluruh keluarga besar SN Karangturi, pada tahun 1967 permohonan yayasan kepada pemerintah waktu itu dikabulkan. Gedung sekolah dikembalikan kepada yayasan dan penggunaannya juga diserahkan kembali kepada pengurus Yayasan Pendidikan Nasional Karangturi. Setelah diperbaiki, pada tahun 1968 Sekolah Nasional Karangturi kembali beraktifitas digedung kampus yang sekarang digunakan oleh TK dan SD Karangturi tersebut.

Pada dekade 90-an, daya tampung kampus di jalan MT Haryono sudah tidak lagi memadai. Siswa kelas 4 SD,  2 SMP dan 1 SMA terpaksa harus masuk siang bergantian dengan yang lain karena jumlah kelas yang tidak lagi mencukupi. Apalagi dengan adanya persyaratan akreditasi dari dinas pendidikan waktu itu bahwa seluruh siswa harus masuk pagi membuat pengurus yayasan bertekad untuk membangun kampus baru yang lebih representatif. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya yayasan membangun sebuah kampus baru diatas lahan bekas pabrik pengolahan kulit di daerah Pengapon untuk menampung siswa SMP dan SMA. Tahun ajaran 1996 - 1997, kampus baru di Jalan Raden Patah mulai difungsikan untuk SMP dan SMA Karangturi, sedangkan kampus lama di Mataram sepenuhnya digunakan untuk TK dan SD Karangturi. Untuk mengenang jasanya yang begitu besar dalam mendirikan sekolah, gedung aula di kampus mataram setelah direnovasi tahun 2001 dinamakan Aula The Sien Tjo.

Sayang sekali, ketidak konsistenan pemerintah daerah dalam hal tata ruang menjadikan daerah pesisir utara kota Semarang terus menerus didera masalah air laut pasang atau rob. Keadaan ini juga membuat kondisi sekolah di Raden Patah menjadi tidak nyaman hingga kembali memaksa pengurus yayasan untuk merencanakan relokasi ke tempat yang lebih nyaman untuk proses belajar. Alih - alih untuk sekedar memindah kampus Raden Patah, pengurus yayasan merencanakan pembangunan kampus terpadu yang dapat menampung seluruh sekolah - sekolah Karangturi. Sebuah tanah seluas lebih dari 5 hektar telah disiapkan di daerah Candi yang relatif aman dari terpaan banjir dan air pasang. Diharapkan dalam beberapa tahun kedepan, seluruh operasional sekolah - sekolah Karangturi sudah bisa menempati lokasi baru tersebut.